Visi
Terwujudnya ekosistem literasi berbasis perpustakaan yang inklusif, berdaya, bertumbuh, dan berkelanjutan di Bandung Raya.
Pernyataan yang kami susun bersama saat mendirikan Aliansi Perpustakaan Independen — landasan semangat dan arah gerak kami.
Bahwa tumbuhnya literasi adalah salah satu aspek penentu berkembangnya pribadi, menjadikan baca dan tulis adalah hal yang tak bisa dihindari. Segala aspek pembelajaran pada akhirnya selalu tereduksi, kembali ke bagaimana manusia dapat memproses dan menyampaikan ide dan informasi, dua hal inti dari kegiatan literasi. Dengan membaca, manusia melihat dunia, menelusuri kisah dan cerita, mengekstraksi makna, menafsirkan kata-kata, mengartikan alinea, berimajinasi ria, membangun idealita, mengurai realita, memproses jiwa, untuk akhirnya belajar utuh tumbuh membangun pemahaman. Dengan menulis, manusia menghadir dalam masa, membangun karya, menuang karsa, merintis cipta, mewujud di semesta, mengkristalkan jiwa, memupuk asa, mengungkap rasa, untuk akhirnya belajar utuh tumbuh mengafirmasi kehidupan. Baca dan tulis, meski dapat terwujud dalam beragam moda dan bentuk, akan tetap kembali pada aksara sebagai dasarnya, dan buku, sebagai mediumnya, akan selalu menjadi udara yang memberi kehidupan, menjadi senjata yang memberi kekuatan. Dan dengan itu, secanggih apapun teknologi mengubah media komunikasi, mengubah arus informasi, mengubah cara karya diproduksi, peran buku akan sukar terganti. Dan dengan itu juga, perpustakaan, sebagai pusat bertukarnya buku-buku itu, sebagai tempat tersimpannya buku-buku itu, sebagai medium terkomunikasikannya buku-buku itu, sebagai ruang terjaganya buku-buku itu, adalah entitas krusial dalam peradaban manusia.
Sayang, kehadiran perpustakaan sendiri bukan tanpa tantangan dan hambatan. Di tengah banyak tekanan zaman, perubahan budaya dan keadaan, kondisi sosial politik yang penuh kerumitan, tren generasi yang terus membingungkan, dan beragam hal lainnya yang secara kolektif hadir dalam satu kesatuan, perpustakaan sering kali kini hanya menjadi lokasi, hanya menjadi benda mati, hanya menjadi tempat yang terisolasi, hanya menjadi bangunan kuno yang sepi, hanya menjadi museum untuk dikunjungi, hanya menjadi simbol literasi, namun tak sepenuhnya terhidupi. Membaca pun menjadi kemewahan, aktivitas yang elit dan sulit, kegiatan yang sering bahkan menjadi simbol keterasingan: mereka yang membaca adalah mereka yang cenderung menyendiri dan terisolasi. Memang ini tidak selalu terjadi, karena riak-riak perjuangan pada dasarnya selalu berontak untuk terus menjaga semangat luhur idealitas. Titik-titik api kecil akan terus berusaha mempertahankan baranya untuk menanti hembusan energi yang menyatukan menjadi kobaran besar perjuangan. Titik-titik api kecil itu, beragam semangat dalam bentuk perpustakaan, komunitas, dan kegiatan, yang meski lemah kurang berarti, masih dapat memberi nikmatnya kehangatan literasi, masih dapat memberi terangnya cahaya perbukuan.
Jelas, dunia sedang tidak baik-baik saja, dengan semua kondisinya, dengan semua absurditasnya, dengan semua konflik di dalamnya. Titik-titik api kecil mungkin hampir mati tertiup angin badai besar situasi dunia, namun hanya dengan itu harapan-harapan mungil dapat dirintis. Karena atas semua yang ada, permasalahan akan selalu kembali ke intinya: berkembangnya manusia, yang literasi tak bisa dilepaskan darinya.
Oleh karena itu, sebuah usaha perlu diawali, sebuah ikhtiar perlu dimulai, untuk menjaga bara api kecil literasi yang telah terbentuk untuk dapat terus menghasilkan cahaya dan kehangatan, dan bahkan bergabung untuk menjadi sebuah kobaran besar semangat keberaksaraan. Maka dari itu, perpustakaan independen perlu terus bersinergi, untuk dapat menjadi wadah, tempat, lokasi, rumah, bagi mereka yang mencintai literasi, apakah itu individu ataupun komunitas. Tanpa menafikan peran banyak perpustakaan negeri, kami percaya bahwa independensi memerlukan ruangnya sendiri. Dan tanpa menafikan peran semua entitas lain dalam dunia literasi, kami hanya mengukuhkan, bahwa dunia perpustakaan, sebagai medium literasi, membutuhkan sinergi. Kami tidak hadir sebagai tandingan, melainkan sebagai penguat dan mitra dalam ekosistem literasi yang lebih luas.
Dengan itu, kami, yang bertanda tangan di bawah ini, dengan nama Tuhan Yang Maha Esa, dengan semangat literasi bersama, pada hari ini, tanggal 26 bulan 2 tahun 2026, membentuk sebuah integrasi, yang kami namai, Aliansi Perpustakaan Independen, atau disingkat API, se-Bandung Raya. API adalah aliansi berbasis komitmen bersama, bukan sekadar forum komunikasi, melainkan wadah kolaborasi terstruktur untuk pengelolaan kolektif, advokasi literasi, dan penguatan kapasitas perpustakaan independen.
Demikian pernyataan ini disusun dan disampaikan. Hal-hal rinci terkait hal ini akan diatur sedemikian rupa melalui dokumen-dokumen pelengkap lainnya. Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari gerak bersama yang lebih besar, demi keberlanjutan literasi dan kemanusiaan, dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai setiap langkah-langkah tulus ini.
Bandoeng, 26 Februari 2026, 8 Ramadhan 1447 H
Aliansi Perpustakaan Independen (API) Bandung Raya
Terwujudnya ekosistem literasi berbasis perpustakaan yang inklusif, berdaya, bertumbuh, dan berkelanjutan di Bandung Raya.
(1) Membangun pengelolaan bersama koleksi perpustakaan, informasi, dan dana kolektif. (2) Memperkuat koordinasi untuk mendukung efektivitas gerakan literasi. (3) Membangun kolaborasi serta budaya saling dukung antar perpustakaan, pegiat literasi, dan calon pegiat literasi guna memperkuat kapasitas bersama.
Ingin tahu bagaimana komitmen ini diwujudkan secara struktural? Lihat struktur organisasi API →